Home Curhat Surat Terbuka Untuk Issabel

Surat Terbuka Untuk Issabel

3
Surat Terbuka Untuk Issabel

Kepada Issabel, wanita yang penuh kebaikan dan kasih sayang.

Issabel, setiap pesan singkat darimu masihlah sesuatu yang spesial dan membuatku senang menerimanya. Meski tak pernah kutanyakan langsung perihal kabarmu, diam-diam aku selalu tahu kabar terbarumu melalui timeline media sosial.

Duhai wanita yang penuh kasih, Issabel, sejujurnya aku tidak pandai dalam menulis dan dirimu pun tahu itu. Tapi aku akan tetap menulis untukmu, seperti kata Eka Budianta “sesuatu yang disampaikan oleh tangan akan ditangkap oleh tangan dan sesuatu yang disampaikan oleh hati pastilah akan ditangkap oleh hati pula” dan aku benar-benar berusaha menulis surat ini dengan hati, Issabel.

Issabel, Pramoedya Ananta Toer juga pernah mengatakan bahwa “semua manusia sudah divonis mati, tapi mereka harus lahir dulu”. Bagiku kalimat tersebut terlihat seperti “Semua manusia akan mengalami putus cinta dan ditinggalkan, sayangnya mereka tetap memilih menjalaninya dan terluka”.

Pagi yang mendung 18 Juni 2019, sebuah pesan singkat WhatsApp masuk dari seseorang yang sangat aku kenal yaitu, dirimu Issabel. Pesan yang dikirimkan tersebut tertanggal 11 Juni 2019 beberapa hari yang lalu. Aku membaca pesanmu bukan satu kali Issabel, aku ulang dan baca dengan perlahan berkali-kali sampai benar-benar paham apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan pada hari itu, hari dimana aku tidak bisa dihubungi karena sedang berada di suatu wilayah yang tidak ada sinyal.

Duhai Issabel wanita yang selalu mengganggu tidurku.
Pesanmu singkat tapi cukup kuat untuk meremukkan dada.

Dengan singkat tertulis kalimat bahwa dirimu sudah melangsungkan acara lamaran.

Issabel, ketahuilah bahwa membaca pesanmu tidak membuatku menangis, tapi hatiku berdarah.

Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar dapat membaca surat ini nantinya atau tidak, jika tidak dapat membacanya kuharap kamu bisa merasakan kasih sayangku.

Hari ini, sebelas hari telah berlalu dari peristiwa pesan singkat yang mengganggu lelap malamku. Sejujurnya aku tak ingin terlihat lemah di depanmu, aku ingin memasang senyum saat menerima pesan bahagiamu, tapi sekuat apa pun aku berusaha kamu pasti tahu bahwa aku tidaklah sekuat itu.

Seandainya aku bisa berkomunikasi denganmu di hari pesan tersebut dikirimkan kepadaku, tetap tak ada yang bisa aku lakukan Issabel. Melarangmu? Oh tentu tidak. Ini pilihanmu yang harus aku hormati dan terima seperti saat kita bersama dulu dimana dirimu adalah prioritasku. Sekarang pun sama.

Issabel, pesan yang aku terima itu benar menyesakkan dada tapi tak ada kesalahan di dalamnya dan tak ada yang perlu dirimu risaukan dengan meminta maaf padaku. Kalau pun ada yang harus meminta maaf tentunya orang itu adalah aku, aku laki-laki yang terlambat datang.

Pesanmu tidak hanya mengejutkanku tapi juga orang-orang di sekelilingku, teman, keluarga, dan lainnya. Semua minta klarifikasi kepadaku tapi aku hanya bisa diam saat itu. Aku tak berdaya dan tak tahu harus menjawab pertanyaan yang mereka sudah tahu jawabannya melalui postingan media sosialmu.

Melalui surat ini aku sampaikan bahwa tidak ada penyesalan untuk setiap tetes air mata yang tertumpah, tak ada dendam sedikit pun. Kita sudah berusaha namun Tuhan juga lah yang menentukan segalanya.

Issabel, tetaplah jadi wanita yang baik dan penuh kasih.

Maafkan aku, jika sampai saat ini aku tak pernah bisa benar-benar melupakanmu. Aku tak bermaksud untuk mengusikmu Issabel. Aku hanya ingin kamu tetap ada dalam hidupku meski pun itu hanya bayang-bayangmu.


Dari aku yang tak pernah melarangmu diet

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here