Pesan Untuk Diriku di Masa Depan

0
38
masa depan

Halo Debi..

Bagaimana kabarmu Debi? Semoga kamu baik-baik saja.

Tulisan ini ditujukan untuk diriku di masa depan. Bukan maksud mendahului takdir tapi ini sebagai pengingat agar aku tak lupa diri.

Sebelum menulis pesan ini jujur saja aku ingin sekali menyapa dan mengirimkan pesan ke diriku di masa lalu. Tapi setelah kupikir tak ada gunanya juga, karena tak akan pernah sampai pastinya. Mesin waktu juga belum tercipta untuk membawa pesanku ke masa lalu. Jadi kuputuskan untuk mengirimkan pesan untukmu. Untuk aku yang jauh di depan.

Debi di masa depan, ada banyak sekali yang ingin aku sampaikan. Hal-hal yang nantinya mungkin kamu akan lupa. Jika benar kau melupakannya maka aku yakin itu adalah pilihan karena hal-hal berhargalah yang akan tersisa untuk dijaga dan dikenang. Tapi Debi, aku ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati dalam memilah apa yang akan kau lupa dan jaga. Karena tidak semua kisah sedih itu tak berguna hingga dihapuskan. Bagaimana pun juga perjalanan yang penuh tetes air mata telah membentuk pribadi yang sekarang membaca pesan ini bukan?

Aku tak punya cukup tenaga untuk memuat banyak cerita melalui tulisan ini, tapi aku punya petuah yang benar-benar harus kau perhatikan. Kamu keras kepala, aku tahu itu karena aku pun sama. Maka dari itu aku menuliskan pesan ini, jika bukan aku siapa lagi yang akan kau dengar dan benar-benar kau percaya?

Debi, makanlah yang banyak dan jaga kesehatan. Sempatkanlah olahraga, kurangi begadang. Aku sekarang mulai membiasakannya agar kelak kau tak mengutukku karena penyesalan. Kuharap di masa depan nanti kau jauh lebih dewasa daripada aku.

Debi di masa yang modern, janganlah kamu mudah menyerah seperti aku saat ini, yang membiarkan hal-hal berharga terlepas begitu saja karena tak kuat menjaga. Kamu mungkin ingat peristiwa bulan ini, Juni? Bagaimana rasanya penyesalan datang padaku dalam rasa yang perih karena melepaskan sesuatu yang berharga. Jadi aku benar-benar mohon padamu apa pun yang terjadi janganlah hilang harapan.

Wahai aku yang di masa depan, kau juga tak boleh takut untuk melangkah ke depan, meskipun rasa takut dari masa lalu membayangi, aku akan membantumu mengatasinya sekarang agar memudahkanmu di masa depan. Tapi jika aku tak berhasil sekarang, maka ku mohon ingatlah kata-kataku tadi, jangan mudah menyerah dan hilang harapan.

Aku di masa depan, kuharap nasib baiklah yang bersamamu. Seperti do’a Ayah dan Ibu yang berharap anak-anaknya menjadi kebanggaan dan berguna bagi orang lain.

Aku benar-benar berharap bila suatu hari nanti kau membaca pesan ini jangan lupa untuk mengenang masa-masa sulit yang telah kau hadapi, agar semangatmu tak pernah padam dibunuh jenuh.

Debi di masa depan, aku tidak tahu dan tidak memiliki gambaran jelas tentang masa depan. Tapi saat menulis pesan ini jujur saja dalam hati aku sedikit tertawa sambil membayangkan bagaimana kehidupanmu disana dan bagaimana pula respon atau raut wajah yang mulai dipenuhi garis usia itu saat membaca tulisan ini.

Tapi aku berharap surat ini akan kau baca dalam senyum, ini hanyalah kenangan masa lalu. Kuharap mimpi-mimpi yang kurajut bisa kau nikmati dalam masa tua yang indah.

Aku mencintai diriku, masa lalu, dan mungkin kau di masa yang akan datang. Maka kuharap kau pun begitu.

Debi, tetaplah semangat, yakinlah apapun yang terjadi senja tetap kembali dengan indahnya, melangkahlah tanpa takut. Jangan pernah menyesal terhadap keputusan apapun yang kau ambil, tapi hadapilah semua konsekuensinya. Pesanku berpikirlah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru, waktu tak pernah mengejarmu itu hanya ketakutanmu.

Terakhir, untuk aku di masa yang tak bisa kubayangkan, terimakasih sudah bertahan.


Salam dari aku di 22 Juni 2019
minum kopi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini